Tampilkan postingan dengan label Active Income. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Active Income. Tampilkan semua postingan

Kamis, 13 Februari 2014

Derita orang yang bekerja sendiri dan pengusaha kecil

Dua kuadran yang menimbulkan kebingungan adalah kuadran S dan B.
Saya sering mendapat pertanyaan, "Apa bedanya orang yang bekerja
sendiri atau pengusaha kecil dengan seorang B atau pengusaha besar?
Perbedaannya mudah dijelaskan.

Jawaban saya adalah, "Seorang B atau pengusaha besar dapat
meninggalkan usahanya selama setahun atau lebih dan ketika kembali
mendapati usahanya semakin lancar bahkan semakin menguntungkan.
Orang yang bekerja sendiri atau pengusaha kecil sering kali tidak
bisa meninggalkan pekerjaan atau usahanya sama sekali. Dalam banyak
hal, kalau orang yang bekerja sendiri atau pengusaha kecil berhenti
bekerja, penghasilannya juga terhenti."

Dan itulah perbedaan umum antara kuadran S dan B. Ketika
orang berkata, "Saya akan keluar dari pekerjaan saya dan menjalankan
bisnis saya sendiri," kebanyakan dari mereka pindah dari kuadran E
ke S, bukan dari kuadran E ke B. Salah satu sebab 9 dari 10 usaha
kecil gagal adalah karena kuadran S merupakan kuadran kerja sangat
keras. Banyak usaha kecil gagal karena kelelahan finansial atau
kelelahan fisik... atau keduanya. Kuadran S adalah tempat di mana
pengusaha kecil mendapat tekanan dari pelanggan, pemerintah, 
karyawan, dan keluarga. Sulit melakukan banyak pekerjaan produktif
bila ada banyak orang yang menuntut dari anda pada waktu yang
bersamaan.

Pengusaha kecil tidak punya waktu luang karena jika berleha-leha, usaha
tidak mendatangkan pemasukan. Dengan cara yang sangat nyata, S adalah
singkatan untuk slavery (perbudakan): Bukan pemilik usaha; namun usaha
itulah yang memiliki mereka
.

dari buku Robert T. Kiyosaki

Rabu, 12 Februari 2014

Bukan sekadar berganti pekerjaan

Berapa kali anda pernah mendengar orang mengatakan sebagian dari
pernyataan berikut?
1. "Saya berharap dapat keluar dari pekerjaan saya."
2. "Saya capek pindah-pindah kerja."
3. "Saya ingin memperoleh uang lebih banyak, tetapi saya tidak sanggup
untuk keluar dan memulai dari awal lagi di perusahaan baru.
Dan saya tidak mau sekolah lagi untuk mempelajari profesi baru."
4. "Setiap kali gaji saya naik, sebagian besar kenaikannya dihabiskan
oleh pajak."
5. "Saya bekerja keras, tetapi satu-satunya orang yang menjadi kaya
adalah pemilik perusahaan."
6. "Saya bekerja keras, tetapi saya tidak maju-maju secara finansial.
Saya sebaiknya mulai memikirkan untuk pensiun."
7. "Saya takut teknologi atau karyawan yang lebih muda akan membuat
saya tidak terpakai lagi."
8. "Saya tidak bisa bekerja keras terus seperti ini. Saya menjadi terlalu
tua untuk itu."
9. "Saya belajar di fakultas kedokteran gigi untuk menjadi dokter
gigi, tetapi saya tidak mau lagi menjadi dokter gigi."
10. "Saya ingin melakukan sesuatu yang berbeda dan bertemu orang-orang
baru. Saya capek membuang-buang waktu, berkumpul
dengan orang-orang yang tidak memiliki ambisi dan yang pergi
ke mana-mana. Saya capek menghabiskan waktu dengan orang
yang cuma bekerja secukupnya... supaya mereka tidak dipecat,
dan saya juga capek bekerja di perusahaan yang membayar kita
sekadar cukup... supaya kita tidak keluar."

Inilah ucapan-ucapan yang dilontarkan oleh orang yang terperangkap
dalam salah satu kuadran dari Cashflow Quadrant. Inilah
komentar-komentar yang sering disampaikan oleh orang yang ingin
berpindah kuadran. Mungkin sudah saatnya bagi mereka untuk
bergerak maju.

dari buku Robert T. Kiyosaki

Karyawan bekerja pada orang lain

Inilah masalah terbesar dalam bekerja pada orang lain: Pekerjaan bukanlah aset. Anda tidak bisa menjualnya di eBay; Anda tidak bisa menyewakannya; Anda tidak bisa menerima dividen darinya.

Jadi, buat apa menghabiskan puluhan tahun, momen-momen emas kehidupan Anda, bekerja keras membangun aset orang lain, bukan aset Anda sendiri?

Sekali lagi: saat bekerja pada orang lain, Anda membangun aset-hanya saja bukan aset Anda sendiri.

Dari buku the bussiness of 21st century.
By Robert T Kiyosaki.
Hal 62.

Minggu, 09 Februari 2014

Cerita nyata akhir dari quadran employee / karyawan

Kisah Pilot Veteran Merpati Jualan Nasi Bungkus Demi Bertahan Hidup



Jakarta - Suka duka dialami para pilot PT Merpati Nusantara Airlines (MNA). Salah satunya pilot senior M. Fadjarudin. Pria paruh baya yang telah bekerja sebagai penerbang selama 32 tahun di Merpati ini, mengaku sudah sejak 26 Desember 2013 lalu belum menerima gaji.

Alhasil ia harus memutar otak untuk memuhi dan menutupi kebutuhan sehari-hari. Dibantu sang istri, setiap pagi ia menjual nasi bungkus ke sekolah sang cucu.

"Saya jual nasi ke tempat cucu sekolah. Saya makan dari situ. Saya usaha catering kecil-kecilan. Istri saya mau bantu," kata Fadjarudin usai jumpa pers di Kantor Pusat Merpati Jakarta, Jumat (7/2/2014).

Menurutnya bertahan hidup dengan menjual nasi relatif cukup untuk kehidupan sehari-hari. Namun kondisi berbeda ketika muncul kebutuhan mendadak. 
Sumber:
http://m.detik.com/finance/read/2014/02/07/132000/2490234/1036/