Tampilkan postingan dengan label Prof. Onggy Hianata. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Prof. Onggy Hianata. Tampilkan semua postingan

Rabu, 22 Oktober 2014

Onggy Hianata : Ayo ke Bootcamp

Co Founder FFG, Onggy Hianata

POS-KUPPANG.COM --- CO  Founder FFG, Onggi Hianata di laman net mengatakan, manusia merupakan aset paling berharga, baik bagi perusahaan, lingkungan, maupun negara.
Karena itu, jika setiap manusia bisa meningkatkan kualitas hidupnya, maka lingkungan di sekitarnya turut memiliki kualitas yang tinggi. Pekerjaan untuk membangun manusia berkualitas bukanlah hal mudah.
Menurut Onggi pada laman net, Life Changing Bootcamp, merupakan salah satu kegiatan inti dari Komunitas FFG yang diselenggarakan dua bulan sekali di Kawasan Puncak Bogor. Kegiatan yang sudah mulai sekitar 8 tahun ini menjadi semacam inisiasi bagi mereka yang mau masuk menjadi anggota komunitas.
Tema umum dalam acara bootcamp yakni Value Your Life. Setiap orang pada dasarnya mencintai kedamaian dan peduli kepada orang lain. Cuma, karena berbagai kepentingan baik bisnis maupun politik, sikap dasar tersebut seringkali hilang. Dengan Life Changing Bootcamp, setiap orang diajak untuk berubah dan kembali peduli terhadap sesama.
Dengan metode simulasi selama tiga hari, peserta digiring untuk membongkar berbagai kepentingan yang selama ini menjadi beban hidupnya. Mengubah cara pandang terhadap hidup menjadi individu yang tangguh. Namu memang  tidak semua orang yang mengikuti Bootcamp merasakan manfaat yang sama.
"Ada yang mengalami perubahan positif namun ada yang belum karena semua tergantung dari setiap peserta. Mengapa? Sebab perubahan dan nilai positif bisa diperoleh jika datang dengan pikiran terbuka. Karena kegiatan ini bukan tempat mesin cuci otak," kata Onggy.

Sumber: http://kupang.tribunnews.com/2014/04/14/onggy-hianata-ayo-ke-bootcamp

Minggu, 16 Februari 2014

Prof. Onggy Hianata: Kalau Saya Bisa, Anda Juga Bisa

Prof. Onggy Hianata: Kalau Saya Bisa, Anda Juga Bisa


TARAKAN, Kalimantan Timur, pertengahan tahun 1974. Onggy, masa itu umurnya belum genap 12 tahun, terlibat perkelahian dengan warga setempat, teman main, serta rekan satu kelas di sekolah dasar dan juga satu kampung. Dia menang. Akan tetapi, yang sangat mengejutkan, sambil menangis, lawannya berteriak, "Kau pulang saja ke Hongkong sana, pulang…." teriaknya.


"Akhirnya saya tahu. Karena saya keturunan China, rekan tadi menyuruh saya pulang ke negara leluhur, Hongkong." Onggy merasa perlu mengungkapkan ini untuk menunjukkan, "… ternyata banyak persepsi keliru masih bertebaran dalam masyarakat, sebagaimana umpatan rekan tersebut. Hal itu dikarenakan keturunan China dipastikan berasal dari Hongkong, sedangkan saya lahir di Tarakan, makan mandi di tepi sungai, dan enggak bisa ngomong bahasa Mandarin satu kata pun...."

Di manakah awal kericuhannya?

Menurut Onggy, "… akibat pendidikan kurang, wawasan terbatas, maka kesalahan mudah terjadi, terutama menimpa generasi tua dari kedua belah pihak pada masa lalu. Kami yang warga keturunan dijejali nasihat, pribumi malas, sulit dipercaya, dan sebagainya. Sementara di sisi lain, orang China dikatakan serakah, mendewakan uang, dan lain-lainnya. Sikap sapu bersih semacam ini jelas keliru. Manusia terdiri dari pribadi, bisa mencerna pengalaman dan memahami kebenaran. Mereka bukan robot yang selalu sama dan sejenis." Tentang bekas lawannya, Onggy melukiskan, "Sekarang kami sudah lebih dari saudara. Setiap pulang kampung selalu bertemu dan sama-sama geli menertawakan kebodohan masa kecil…."
  

KEBODOHAN memang bencana yang harus diatasi. Sebagaimana kemiskinan yang sejak kecil menimpa Onggy. "Saya anak nomor delapan dari sembilan bersaudara. Ayah saya pegawai toko kelontong." Meskipun demikian, dia sangat bangga kepada Ong Tjoi Moy, ayahnya. "Sebelum meninggal (tahun 1981), Papa mengumpulkan semua anaknya, mewariskan pesan, jaga nama baik dan integritas."

Kedua pesan tersebut langsung menjadi kenyataan. "Ketika upacara penguburan, pelayat yang datang mengiringi jenazahnya melimpah ruah sampai ke tepi liang kubur. Seminggu sebelumnya, seorang cukong paling kaya dan banyak catatan kriminalnya juga meninggal dunia di Tarakan. Yang mengantar ke kuburan tidak lebih dari 20 orang, semua keluarga dekat. "Ini membuktikan, menanam kebaikan akan dipanen semasa kematian, begitu juga sebaliknya."

Nama baik dan integritas menjadi andalan Onggy ketika pada tahun 1983 ia merantau ke Surabaya untuk mengikuti pendidikan tinggi bahasa. Di sela-sela waktu kuliah, dia mencari uang untuk biaya hidup. "Aneka pekerjaan pernah saya jalani, mulai dari pedagang keliling buku sampai membikin kerupuk ubi, mulai dari berjualan lotre Porkas hingga berjualan jagung bakar di depan kampus, serta ikut bisnis pemasaran jaringan (multi level marketing)."

Bisnisnya selalu jatuh bangun, tidak lestari akibat situasi dan kondisi sering berubah. Sebagai juragan kerupuk ubi, misalnya, ketika pesanan kerupuk ubi sudah mulai banyak, ia ditipu rekannya. Sewaktu Porkas ramai, mendadak kebijakan berubah. "Porkas berhenti, saya kembali bangkrut…," katanya.

Sekalipun jatuh bangun, Onggy tetap maju dengan berusaha menjaga nama baik dan integritas. "Maka, peluang selalu terbuka sebab kedua pesan warisan Papa merupakan modal tak ternilai. Dalam dunia bisnis kepercayaan adalah nomor satu. Sekali Anda menipu, selamanya semua pintu tertutup sekaligus menutup kesempatan." Pedoman lain yang dia petik dari pengalamannya yang jatuh bangun adalah "forgive and forget, maafkan dan lupakan. Perjalanan hidup masih panjang, kalau selalu mengenang kegagalan, bagaimana berani menempuh masa depan?

TEKAD ini pula yang dia bawa ke Jakarta awal Januari 1998. Praktis tanpa bekal karena ia baru saja mengalami kebangkrutan. Bahkan, ia harus membawa istri (Chandra Dewi, asal Bali, yang dinikahinya tahun 1995) berikut bayi merah berumur satu bulan, Rich Onggy Jr.

"Orang China kuno percaya hoki, keberuntungan. Akan tetapi, saya yakin, bukan hoki yang menjadikan seseorang sukses, melainkan bagaimana kecermatan dalam menekuni peluang." Keyakinan tersebut harus dipupuk dengan catatan nama baik yang akan dijadikan pegangan oleh orang luar untuk menilai integritas kita. Pada diri Onggy, dalam situasi terpuruk di Jakarta, seorang bekas seniornya (up line) pada bisnis jaringan menghubunginya. Dari Swedia orang itu menawarkan peluang bisnis, yaitu berjualan koin emas.

"Pemasaran, meski konsepnya bagus, tanpa dukungan integritas dan bonafiditas pribadi tidak bakal jalan." Yakin kalau track record-nya selama ini tidak mengecewakan, Onggy dengan bersemangat kembali membangun bisnis pemasaran jaringan *********. Setelah tiga tahun di sana, pada dua tahun terakhir dengan jaringan 60.000 orang tersebar di 36 negara, Onggy berhasil meraih penghargaan top leader dengan penghasilan terbesar di dunia. Keberuntungannya telah bertolak belakang dengan ketika dia pertama kali ke Jakarta, empat tahun lalu, di tengah kebangkrutan.

"Impian semasa di kampung hampir semuanya kini sudah bisa saya raih. Menjadi kaya bukan kejahatan, asal dilakukan dengan jalan lurus, tidak menipu dan tidak menodai nama baik kita, sebagaimana pesan ayah." Selain masih tetap ikut bisnis jaringan, Onggy juga mengembangkan usaha pribadi di bidang pendidikan, Edunet International. "Saya ingat kata-kata Robert Kiyosaki, lebih baik hidup dengan punya pilihan. Bisa memilih pekerjaan, bukan dengan harus selalu bekerja. Maka, kalau saya sedang ingin bekerja, bekerja. Kalau enggan, tinggal di rumah, mengasuh anak dan istri." Kini keluarga muda tersebut sudah ditambah gadis kecil, Birdie Filadelfia.

KISAH suksesnya dalam bisnis pemasaran jaringan menjadikan Onggy sering diundang berceramah. Tidak hanya ke kota-kota di Indonesia, tetapi juga ke sejumlah negara tetangga. "Sesudah semakin menghayati, saya kemudian membuka usaha baru, dalam bidang pendidikan, sebagai motivator. Kalau saya bisa kaya, orang lain juga pasti bisa mencapainya"

Menurut keyakinan Onggy, peluang bisnis akan selalu ada. "Selain itu, setiap orang selalu punya potensi dan talenta. Sayangnya, kebanyakan kita sering tidak sadar dan bahkan melalaikannya."


Sebagai motivator laris dan berbicara dalam berbagai seminar, dia selalu menunjuk pada pengalaman pahit masa lalunya. Onggy Hianata berkata, "Sayangnya, banyak orang punya mindset (pola pikir) salah, dampaknya justru kontra produktif terhadap diri sendiri. Gagal adalah sebuah hal biasa. Namun, dari setiap kegagalan, minimal ada pelajaran berharga yang dapat dipetik, yaitu petunjuk menuju sebuah keberhasilan. Kalau saya bisa, mengapa Anda tak bersedia mengubah mindset dan ikut serta meraih sukses?" (Julius Pour)

Sumber: Toko Demak.

Berita Profile Onggy Hianata, Majalah Berita Indonesia

Tanpa Kegagalan Tidak Ada Kesuksesan, Majalah Berita Indonesia 7 April 2006


Harus menghadapi banyak kegagalan dulu, sebelum ia sukses menjadi seorang wiraswasta
andal seperti sekarang. Kini ia menjadi inspirasi bagi orang-orang yang ingin hidupnya lebih 
bernilai.

Sosoknya tenang dan kalem saat berbincang-bincang di sebuah kafe dengan Berita Indonesia.
Namun, jika sudah pernah menghadiri salah satu seminar yang diselenggarakannya, orang
akan melihat sisi dirinya yang lain di depan para peserta. Ia berbicara dengan penuh semangat
dan berapi-api, mengisahkan pengalaman hidupnya yang diawali kegagalan dan
membangkitkan motivasi peserta seminar dengan menunjuk dirinya yang kini sukses sebagai
contoh bahwa tanpa kejatuhan, seseorang tidak akan bangkit lebih tinggi.

Dialah Onggy Hianata, seorang inspirator yang sudah melanglang buana ke berbagai negara.
Pria kelahiran Tarakan Kalimantan Timur, 44 tahun yang lalu ini memang layak menjadi contoh
inspirasi bagi orang-orang yang merasa hidupnya gagal dan tak berarti. Lahir dalam keluarga
sederhana keturunan non-pri, Onggy tak pernah merasa dirinya berbeda.

“Saya lahir di Tarakan, makan, mandi di tepi sungai,” ujarnya. Ayahnya, Ong Tjoi Moy, hanya
seorang kepala administrasi dengan penghasilan yang tidak mencukupi. Namun demikian,
ayahnya tidak pernah mengeluh. Ini pula yang menjadikan Onggy mengidolakannya.

“Jujur, tegar, penuh perhatian pada keluarga, positif dan bertanggung jawab. Saya belajar
banyak darinya,” ujar Onggy. Sebelum meninggal pada tahun 1981, ayahnya mengumpulkan
semua anaknya dan memberikan pesan agar mereka selalu menjaga nama baik dan integritas.

Itulah yang dihayati Onggy hingga sekarang. Pada tahun 1983 ia merantau ke Surabaya untuk
mengikuti pendidikan tinggi bahasa. Di sela-sela waktu kuliah, dia mencari uang untuk biaya
hidup. Aneka pekerjaan pernah ia jalani, mulai dari pedagang keliling buku sampai membikin
kerupuk ubi, mulai dari berjualan lotre Porkas hingga berjualan jagung bakar di depan kampus,
serta ikut bisnis pemasaran jaringan.

Bisnisnya selalu jatuh bangun, akibat situasi dan kondisi sering berubah. Sebagai juragan
kerupuk ubi, misalnya, ketika pesanan kerupuk ubi sudah mulai banyak, ia ditipu rekannya.
Sekalipun jatuh bangun, Onggy tetap maju dengan berusaha menjaga nama baik dan
integritas. Dalam dunia bisnis, kepercayaan adalah nomor satu. Sekali menipu, selamanya
semua pintu tertutup sekaligus menutup kesempatan. Pedoman lain yang dia petik dari
pengalamannya yang pahit itu adalah forgive and forget, maafkan dan lupakan. Perjalanan
hidup masih panjang, kalau selalu mengenang kegagalan, bagaimana berani menempuh masa
depan.

Dengan tekad itu, dia pergi ke Jakarta awal Januari 1998. Praktis tanpa bekal karena
mengalami kebangkrutan. Ia harus pula membawa istrinya, Candra Dewi, yang dinikahinya
tahun 1995 dan putra pertamanya yang kala itu baru berumur satu bulan, Rich Onggy Jr.

Menghargai Hidup
Sebagai seorang praktisi di bidang pengembangan mental dan pribadi, Onggy punya
keprihatinan yang sangat besar terhadap berbagai persoalan yang dihadapi bangsa ini. Salah
satu yang menjadi perhatiannya adalah masalah korupsi yang seolah-olah dianggap telah
menjadi ‘budaya’ bangsa Indonesia.

Ia sendiri sesungguhnya tidak sependapat dengan anggapan korupsi sudah membudaya. “Itu
‘kan kata orang,” ujarnya. Kalau pun memang benar sudah menjadi budaya, bukan berarti
setiap orang harus mengikutinya agar dianggap tidak ketinggalan zaman.
Menurutnya, para koruptor itu adalah orang-orang yang tidak menghargai hidupnya. Filosofi
“Value Your Life” itu sebenarnya mendalam sekali, yakni bagaimana kita menghargai diri
sendiri, menghargai keluarga kita dan menghargai orang lain.

Jika para koruptor itu bertanya pada hati mereka yang terdalam, tentu mereka sendiri merasa
bersalah karena telah menghidupi keluarganya dengan uang haram.

Sebagai seorang inspirator, banyak filosofi dari berbagai tokoh yang menjadi sumber
inspirasinya. Tak ada tokoh tertentu, melainkan semua tokoh menjadi panutannya.

Ia mengagumi Gandhi karena kerendahan hatinya dan kepemimpinannya. Tokoh India itu
adalah seorang pemimpin sejati. Ia tidak pernah menggunakan kekerasan sebagai
kekuatannya. Integritasnya membuat namanya dihormati sepanjang zaman. Ia mengagumi
Kong Hu Cu, filsuf dari zaman Tiongkok kuno, yang ajarannya tentang kebaikan tak lekang
hingga sekarang. Ia juga meneladani tokoh-tokoh agama seperti Nabi Isa, Nabi Muhammad,
bahkan Buddha Gautama. Baginya, keteladanan itu tidak melihat agama.

Banyak suri tauladan yang bisa dipetik dari semua tokoh-tokoh agama itu. “Janganlah
berpandangan fanatik dan sempit,” ujarnya.

Onggy melihat berbagai konflik yang terjadi di tanah air akibat pandangan sempit itu.
Menurutnya, jika seorang pemimpin berpandangan sempit, akan membuat pengikutnya menjadi
radikal.

Kalau ada pertikaian yang membawa-bawa agama, menurutnya, itu bukan masalah agamanya
melainkan karena oknumnya. Jadi oknumnyalah yang harus bertanggung jawab. Pandangan
sempit juga seringkali berlaku bagi ras dan warna kulit. Ada pertentangan antara pribumi dan
non-pribumi, bahkan antar suku pribumi sendiri.

Berbagi Kesuksesan
Mengalami berbagai kegagalan hingga sukses seperti sekarang membuat anak kedelapan dari
sembilan bersaudara ini menjadi inspirasi bagi teman-temannya. Mulailah ia sering diundang
berbicara di berbagai kota di Indonesia, bahkan sampai ke luar negeri untuk membagikan
pengalamannya. Menginspirasi banyak orang agar tidak mudah menyerah menghadapi
kegagalan. Ia kemudian dikenal sebagai seorang ‘inspirator’. Istilah yang lebih disenanginya
ketimbang ‘motivator’. Sebab menurut Onggy, jika seseorang terinspirasi maka otomatis ia juga
termotivasi.Onggy akhirnya merasa terpanggil untuk menularkan kesuksesannya kepada
sebanyak mungkin orang yang merasa hidupnya tak berarti karena ditimpa banyak kegagalan
seperti dirinya dulu. Ia bersama beberapa temannya kemudian menggagas dan mendirikan
Edunet International pada bulan Juli 2002. Sebuah lembaga yang bergerak di bidang
pengembangan dan pembentukan mental.

Melalui Edunet, ia ingin memberikan kontribusi yang positif kepada masyarakat luas. Seperti
yang diungkapkannya kepada Berita Indonesia, ia belajar dari perjalanan hidup yang penuh
kegagalan, namun mensyukuri hal itu.

“Nah, saya pikir kalau saya punya sesuatu yang bisa menginspirasi orang lain, kenapa saya
harus memegangnya sendiri,” ujarnya.

Maka, Edunet yang diambil dari kata education network itu ibarat sebuah suplemen setelah
pendidikan formal. “Pokoknya, bagaimana saya bisa membantu banyak orang,” tegasnya. Dan
salah satu filosofi Edunet itu adalah “Value Your Life”.

Sebagai Managing Director Edunet, Onggy menyelenggarakan seminar-seminar dan berbagai
pelatihan motivasi. Ia menyusun program-program yang membangkitkan semangat hidup bagi
peserta pelatihannya yang disebut “A Life Changing Bootcamp” itu.

Perubahan positif pun dirasakan para pesertanya. Perubahan itu sangat beragam, ada yang
terlepas dari ketergantungan narkoba, minuman keras, kopi maupun pornografi, menghentikan
kebiasaan selingkuh, lebih percaya diri, rajin beribadah dan mengharmoniskan kembali rumah
tangga. Bahkan, ada yang bisa terbebas dari traumanya.

“Kita telah membayar harga yang mahal dari suatu kegagalan. Jika kita tidak belajar darinya
maka akan lebih jelek lagi dari kegagalan itu sendiri. Setiap kegagalan minimal pasti ada satu
pelajaran berharga yang harus dipetik,” katanya dengan bijak. RH, AM,WS (Berita Indonesia
11)***

Biodata

Nama lengkap : Onggy Hianata
Tempat/Tgl lahir : Tarakan, 6 Maret 1962
Isteri : Candra Dewi
Anak : Rich Onggy Jr., Birdie, Evander

Pendidikan formal : S1 Bahasa, STIBA Surabaya

Aktivitas:
- Managing Director PT Edunet International
- Pengusaha
- Pembicara (inspirator) di berbagai seminar pengembangan pribadi, di dalam dan luar negeri.

Sumber: Berita Profil Majalah Berita Indonesia 7 April 2006